Indonesia ku dan marketing



Hari ini aku sedang ga ada kerjaan, well ... iseng-iseng lagi nongkrong lewat seorang tukan sol sepatu. Hal itu mengingatkan ku pada sepatu butut futsal ku yang udah jarang ku pakai. Yah ... sepatu nya sih masih layak pakai (hihihihi). Nah, setelah aku mulai menggunakan jasa bapak tersebut, tanpa sengaja tercipta sebuah ide yang menggelitik di antara percakapan kami selama proses "operasi sepatu tersebut"

Sang tukang sepatu tersebut umur nya belum lah terlalu tua (ga muda juga sihh), namun perjalanan hidupnya sangat lah berwarna dan asyik untuk ditelusuri. Mulai dari Sabang hingga Merauke telah dijalani nya. Semasa muda beliau adalah seorang pedagang jaket kulit, obat tradisonal, yang memasarkan barang nya hampir ke seluruh pelosok pertiwi.

Curahan hati si bapak tentang masa muda nya mengisyaratkan jiwa petarung yang pantang menyerah. Dengan modal seadanya dia mampu berdagang dan menghidupi satu orang isteri dan lima orang anak nya hingga sekolah menengah atas.

Bermodal kan keramahan, personal diri yang sederhana, semgangat membaja membuat apa yang ditawarkan nya dapat di terima oleh konsumen nya. Bentuk sederhana ini langsung membersitkan selling concept (secara teori) dan marketing concept yang ada di kepala ku. Mengetahui apa yang menjadi sikap dan pola pikir orang adalah tugas utama seorang marketer.

Secara tidak langsung, beliau melakukan eksekusi target market melalui segmentasi demografi dan geografi yang di hadapi nya. Bagaimana dia bertemu dengan orang padang, batak, jawa, papua, selalu mengkondisikan dengan sikap dan culture yang ada di masyarakat tersebut. Supel dan cepat nge"blend" kalau istilah anak muda jaman sekarang.

Begitu enak nya ngobrol dengan bapak tersebut, mengisyaratkan bagaimana fleksibilitas berpikir beliau yang dapat diarahkan ke obrolan ringan maupun berat. Mulai dari masalah kehidupan, politik, hingga ke hal-hal "dewasa" (ehemm -eheem tentang perilaku "jajan sate para pedagang yang ga perlu dijelaskan secara harfiah).

Obrolan tersebut berlanjut tentang bagaimana indah dan makmur nya pertiwi Indonesia, subur nya tanah dan kekayaan alam yang belum semua nya tergali. Begitu banyak yang ditawarkan nya, namun tetap saja belum dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Bagaimana kita selalu mengucapkan bumi kita yang kaya bila kita tidak memahami esensi sebenarnya dari kekayaan tersebut. Kita tahu Indonesia subur, tapi kita kurang memahami bagaimana mengoptimalkan kekayaan tersebut.

Mari kita lihat contoh sederhana, Indonesia adalah negara agraris (itu adalah fakta), namun bagaimana pemasaran pertanian Indonesia, apakah telah memberikan economic contribution yang baik, di mana value yang di dapat lebih besar dibanding kan cost untuk membuat nya. Saluran distribusi, penetrasi harga yang kompetitif, belum mampu mengangkat keadaan econolic contribution ke arah positif.

Value yang tercipta hendak nya adalah memberikam benefit yang tinggi bagi para konsumen dan benefit yang tinggi pula bagi produsen nya (rakyat Indonesia umum nya, para petani khususnya). Kita memiliki resources yang melimpah ruah, hal ini dapat kita jadikan sebagai resources driven sebagai marketing strategi bases yang sinergi dengan market attractiveness masyrakat Indonesia yang mengkonsumsi beras.

Segmenting, Targeting, maupun Positioning Indonesia dapat dijadikan competitive advantage bagi pemerintah untuk memberikan superior customer value bagi bangsa nya sendiri. Minimasi cost dalam produksi beras dapat dilakukan, karena pada dasar nya sistim pertanian kita adalah tradisional yang tidak menuntut biaya operasionalisasi yang tinggi.Kualitas tanah dan iklim Indonesia yang bersahabat secara tidak langsung telah memberikan benefit yang tinggi melalui isolating mechanism to protect imitation bagi negara lain.

Masalah utama tetap kembali terhadap masalah SDM, sejauh mana kapabilitas dan kemampuan bersaing para petani dalam melakukan produksi dan kebijakan pemerintah dalam memberikan peraturan dan kebijakan distribusi mauoun harga yang memberikan win-win solution bagi para petani maupun rakyat Indonesia.

Hal tersebut masih klise, seorang marketers harus mampu melihat peluang ini. Peralihan sedikit orientasi tentang produk ke arah lebih dominan perlu dilakukan, karena pangan adalah kebutuhan dasar masyrakat Indonesia yang porsi nya sangat besar dalam hierarki teori kebutuhan Maslow.

Tidak hanya pertanian seperti padi saja, perikanan maupun perkebunan dan hutan, pariwisata adalah merupakan sebagian kecil dari apa yang ditawarkan oleh pertiwi kepada kita. Mari kita kembangkan, dan Jaya lah selalu kau Pertiwi ku!!!