Perang harga bisnis Telekomunikasi


Deras nya perkembangan teknologi searah dengan bertambah banyak nya provider bisnis telekomunikasi yang memasuki pasar Indonesia. Begitu banyak nya jenis provider telekomunikasi yang dapat di pilih oleh konsumer sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Hal ini juga berdampak terhadap 'pemain' dalam bisnis ini untuk melakukan manuever-manuever strategi agar dapat memenangkan market share dari pada pesaing ny.


Dalam menentukan strategi yang tepat, analisa industri dan internal perusahaan harus lah dilakukan, agar strategi yang akan diterapkan sesuai dengan kemampuan perusahaan. Membidik pasar yang akan di masuki harus lah berorientasi pada market-driven, atau pun customer-driven.

Penentuan Segmenting, Targeting, dan Positioning adalah hal mutlak yang dilakukan. Strategi STP ini merupakan awal dari penentuan strategi lain nya. Segment yang akan di bidik harus lah memiliki nilai potensi pasar yang menuju ke arah profit dan sesuai dengan kemampuan pasar untuk memenuhi demands yang ada.
Customer-driven adalah bagaimana perusahaan memandang needs dan wants konsumen yang dijadikan demand oleh perusahaan untuk di penuhi.
Targeting yang akan dibidik adalah merupakan tahap selanjut nya setelah perusahaan menentukan segment mana yang akan di pilih. Dalam targeting ini, segmenting di persempit lagi dan di fokus kan pada karakter atau tipikal konsumen yang bagaimana yang menjadi orientasi perusahaan

Positioning adalah hal yang crusial bagi perusahaan. Apabila segmenting dan targeting telah ditetapkan, maka positioning adalah merupakan KTP bagi perusahaan yang merupakan motor agar konsumen dapat membedakan antara provider satu dengan yang lain nya. Positioning ini salah satu nya dapat terwujud melalui marketing communication, atau dalam hal khusus nya melalui transfer value produk melalui brand image.
Brand Image penting dilakukan, karena dengan banyak nya media dan informasi yang di konsumsi oleh masyarakat, maka terkadang brand awareness terhadap satu produk secara khusus tidak tercapai.

Pricing Strategy adalah merupakan salah satu dari 7P's dalam service marketing mix. Pricing strategy yan dilakukan terderi dari:
a. Push strategy
Strategy ini dilakukan untuk mendorong konsumen agar mau membeli dan menggunakan produk ataupun jasa yang ditawarkan. Push strategy ini dapat dilakukan melalui iklan melalui media massa
b. Pull strategy
Strategy ini dilakukan untuk menarik minat, perhatian, bahkan perilaku konsumen untuk membeli. Strategi ini bisa dilakukan dengan memberikan discount, paket-paket harga yang menarik, hadiah, atau pun sales coupon.

Para raksasa provider bisinis telekomnikasi di Indonesia saat ini sedang melakukan perang harga untuk memenangkan market share dalam industri telekomunikasi. Tarif telepon murah, bonus SMS, atau pun hadiah-hadiah bagi para pengguna nya diharapkan dapat menarik minat para konsumer. Tentu saja dengan ada nya penetrasi harga ini banyak terjadi value migration pada konsumen. Hal ini dapat terlihat, seorang konsumen menggunakan 2 atau bahkan lebih provider telekomunikasi yang berbeda-beda. Mungkin saja provider tertentu berbasis GSM produk X dan lainnya menggunakan provider Y berbasis CDMA, atau bahkan paling extreme menggunakan 2 atau lebih provider dengan basis yang sama (GSM ataupun CDMA)

Lalu apa yang menjadi orientasi perusahaan? ... Well ada yang adem ayem, dan sebagian malah melakukan frontal assault strategi terhadap competitor nya. Frontal assault dilakukan bahkan dengan terang-terang an. "Head to head battle" melalui iklan televisi menjadi santapan konsumen se hari-hari. Penggunaan analogi warna (brand)tertentu yang buruk bagi pengguna nya dan memberikan dis advantage bila menggunakannya menjadi jargon dalam mengkomunikasi kan brand mereka.

Tapi apakah penetrasi harga ini sesuai dengan customer value yang dibutuhkan oleh masyarakat? ....