ada tiada
seorang bocah kecil berlari diantara terik nya mentari yang membakar telapak kaki
di antara alunan gamelan yang merapal mantra selaksa kidung kehidupan
mengarungi bahtera yang terombang-ambing oleh deras nya ombak menghempas ke karang terjal
menangis ... meringis ... di antara denyut kebahagiaan para tirani
dendang kan sebuah lagu untuk nya
sekedar menemani kesendirian yang tiada batas
ulur kan tangan pada nya
biarkan dia menggapai permukaan kebahagian yang hanya hadir dalam mimpi
senja telah merangkak naik menemani sang malam yang kan menjelma
selimut kabut pun turun
dingin di bumi
gelap ... tak ada yang peduli
saat kau terlelap dalam mimpi
saat kau menari diiringi para bidadari
saat kau reguk arak yang memakbukkan
dia menggigil dalam ketakutan
saat nya untuk menyadari
akhir perjalanan yang kian menepi
persimpangan yang harus di pilih
dilema yang di hadapi
bocah itu adalah aku
seorang anak manusia yang terlahir ke dunia
lemah tak berdaya
di batasi takdir kehidupan yang menyesakkan dada
bantu aku untuk berdiri
tunjukkan arah yang harus ku tempuh
bimbing aku menapak bukit terjal ini
sampai aku bertemu pada Nya





